Semua mata terkesima, ketika pagi itu matahari mulai menunjukan keelokan wajahnya. Seakan Ia malu untuk menampakan dirinya. Namun ia menggoda dan memaksa kita untuk berhenti dari buaian bunga tidur. Tanpa kita sadari sang raja siang itu berhasil membangunkan kita dengan senyumannya yang rupawan. Pagi itu, ditemani secangkir teh hangat dan sepotong roti isi keju yang melumeri permukaan badan roti itu, aku memulai akivitas. Seperti biasa, rutinitas sehari-hari yang harus ku lalui. Begitulah hidup. Awalnya biasa saja, deretan antrian sepeda motor yang mewarnai kemacetan ibukota menambah runyam pagi itu. Jarum jam menunjukan pukul 8 tepat ketika aku berjalan meniti untaian anak tangga yang tersusun begitu rapih. Kubuka pintu 306 itu, dan kulihat bangku kosong dideretan nomor dua dari belakang.
Pukul 09.30
Menunggu adalah suatu pekerjan yang paling membosankan bagiku. Entahlah, tapi bagiku membuat orang menunggu adalah hal biasa. Seperti halnya ketika aku berkata “iya” untuk sebuah janji yang sebenarnya mungkin tidak bisa ku lakukan, Lebih tepatnya tidak bisa aku tepati. Begitu lama menunggu waktu itu, padahal aku menunggu hanya untuk sebuah pikiran yang selama ini menggangguku. Ketika ku berjalan menuju lorong lantai tiga itu, rasa yang mungkin telah hilang saat kulalui hidup ini tiga tahun dengannya seakan terlahir kembali.
Pukul 10.40. Sesuai rencana, Ia duduk di depan dan aku di belakang. Hanya bisa memandanginya adalah sebuah keindahan bagiku. Mungkin sebuah keajaiban bila saat itu ku bisa mengenalnya, walaupun ku tahu mungkin hari itu menjadi hari terakhir bagiku untuk mengenalnya. Entahlah walaupun ia akan menjauh setelah mengetahui perasaanku kepadanya, tapi ku tetap bersyukur atas apa yang terjadi hari ini. Sebuah memory indah di kelas itu.
Keikhlasan untuk menerima adalah sebuah pikiran, lebih tepatnya perbuatan yang sering kali seseorang susah untuk melakukannya. Entahlah. Mungkin bagi sebagian orang keikhlasan hanyalah sebuah pikiran atau bahkan hanya sebuah filosofi. Sebagian lagi beranggapan keikhlasan adalah suatu perbuatan. Ironi memang.
Berasal dari suatu kata yang tersusun dari sepuluh deretan kata alfabetis, Keikhlasan menjadi sebuah kenistaan, lebih tepatnya kenistaan yang mendalam. Tapi bagaimana manusia bisa memilih sepuluh dari dua puluh lima kata yang tersedia dalam susunan abjad alfabetis sehingga menjadi sebuah makna yang begitu indah. Hanya tuhan yang tahu.
Menjalani kehidupan diiringi dengan keikhlasan adalah sebuah pilihan. Sebagian orang lagi menyebut keikhlasan sebagai sebuah paksaan. Keihlasan menerima segala sesuatu yang terjadi memang sulit, namun lebih sulit lagi bila kita tidak bisa ikhlas menerimanya.
Namun, Menerima apa yang tidak bisa dimiliki adalah sebuah keindahan. Dan menjadi lebih indah bila kita ikhlas menerimanya.
Terinspirasi atas kejadian hari ini di ruangan itu.
Terima kasih.
Cimanggis, 12 Mei 2010
Maulana Yasha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar