Sabtu, 05 Juni 2010

Sebuah kebohongan..being honest part II

Kebohongan. Suatu kamuflase yang membuat kita menjadi lebih "baik", diantara deretan kata-kata yang tersusun dalam deretan huruf alfabetis, kebohongan merupakan suatu klimaks, begitu indah. Dengan kebohongan, semua terasa mudah. Jumat, hari itu, diantara lorong panjang lantai 3, penulis berjalan, menatap keindahan, sampai sebelum akhirnya kebohongan mewarnai detik itu, bunyi gerakan pintu yang menggericit, bagai menggambarkan apa yang akan terjadi saat itu. ya, sebuah konsekuensi akibat kejujuran, lebih tepatnya kelalaian, harus diterima saat itu.

Kejujuran, merupakan sebuah proses panjang yang menjadi dilema untuk kita lakukan. Sementara kebohongan? suatu waktu kejujuran bisa menjadi sebuah kebohongan. begitu juga sebaliknya, begitu tipis perbedaannya, setipis helaian benang sutra yang terurai, mungkin lebih tipis dari itu, tiada batas. Di ruang itu, 309, kebohongan dimulai, alunan pena yang menari-nari mengikuti kebohongan menghiasi secarik kertas yang terurai lemas saat itu. Tanpa tahu sebabnya, pena itu dipaksa menari dan terus menari, mengikuti simfoni indah yang ditimbulkan oleh pikiran, lebih tepatnya kenistaan.

Terkadang, kita harus menerima konsekuensi tanpa harus tahu sebabnya. Tidak adil memang. Tapi bukankah keadilan hanya lahir dari sebuah kekuasaan. Lebih tepatnya kekuasaan pengajar yang mungkin sulit ditembus oleh seorang mahasiswa. Dan sulit untuk bisa diterima secara logika. Itulah hidup. Mengalir bagai alunan nyanyian yang terkadang indah, dan mencapai puncak ketika kita berbicara reff-nya. Namun, suatu waktu kita bisa terjatuh, karena tanpa kita sadari mungkin kita tidak bisa mengikuti melodi irama yang indah itu.

Seperti saat itu, jumat di bulan kelima kalender hijriah, saat mengerjakan soal yang diberikannya itu. Ia melihat, namun seolah tak memperhatikan. Ia mendengar, namun tak merasakan. Entah disengaja atau tidak, itulah yang terjadi saat itu. Entah siapa yang berbohong saat itu, mahasiswa yang dengan pena-nya berdansa di atas kertas dengan bantuan handout itu, atau Ia yang terpaku membisu di sebuah meja besar itu. Tapi bagiku mungkin itu adalah sebuah hadiah atas perbaikan yang tidak pernah diceritakan sebelumnya atau mungkin sebagai hadiah atas nilai terburuk dari soal-soal yang tidak pernah diajarkan sebelumnya. Lantas siapa yang berbohong? Entahlah.

Kebohongan bukanlah pilihan. Tetapi menjadi bohong karena keadaan adalah suatu keputusan. Kita tidak bisa selalu bohong, atau bahkan membohongi diri kita sendiri atas apa yang kita lakukan. Semuanya berjalan beriringan. Ketika kebohongan menjadi sebuah kenyataan, kita hanya bisa menjalani dan berharap bahwa kebohongan itu hanyalah sebuah kekosongan yang terpaksa kita isi. Karena kebohongan selalu meninggalkan gerbong kejujuran yang selalu membuntuti kita. Itulah hidup.

Lagi – lagi, tulisan ini tidak bermaksud untuk memaksa kalian untuk tahu siapa yang bohong atau tidak. Ini hanyalah sebuah catatan kecil. Tidak memaksa kalian untuk berfikir apalagi bertindak untuk selalu jujur ataupun selalu bohong. Karena sesungguhnya kejujuran dan kebohongan telah terpatri dalam diri kita masing-masing. Terima kasih


Terinspirasi atas pengumuman nilai jumat itu.

Cimanggis, 8 Mei 2010



Maulana Yasha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar